Harian Fajar

Mengungkap Fakta & Peristiwa

Tingkah ‘Halu’ Bos Paguyuban Pengubah Lambang Garuda Pancasila.

Garut – 

Pemimpin Paguyuban Tunggal Rahayu telah diperiksa oleh Polres Garut. Sutarman, sang empunya paguyuban, membuat berbagai pengakuan dan tingkah ‘halu’ alias berbau halusinasi selama diwawancara wartawan di Mapolres Garut pada, 10 September 2020.

Sekadar diketahui, Paguyuban Tunggal Rahayu ini mendadak jadi sorotan lantaran mengubah lambang Garuda Pancasila dan mencetak uang sendiri yang dipakai di lingkup internal. Lalu apa saja sih pengakuannya?

Di antara pengakuannya yang bikin orang geleng-geleng kepala adalah soal gelar akademisnya, Sutarman kerap aliaskan diri sebagai Prof. Dr. Ir. H Cakraningrat, SH. Pria lulusan aliyyah atau setingkat SMA itu mengaku mendapatkan gelar secara halusinasi juga.

“Saya sekolah dari…..kalau secara lahiriyah secara terbuka keluaran aliyah. (Tahun) 96 dikuliahkan secara kuliah kerja nyata oleh orang tua daripada orang tua perintis NKRI,” ucap Sutarman.

“Jadi saya kuliah di alam bukan di universitas. Dari yang memegang amanat dan wasiat, perintis NKRI termasuk Bung Karno, Pak Hatta, termasuk banyak lah,” ujar Sutarman.

Pria yang kerap tampil dengan menggunakan peci ini juga mengklaim memiliki 13 ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Anggota yang disebutnya sukarela bergabung itu tersebar di 34 provinsi di Indonesia. “Kurang lebih kalau sekarang itu sudah 13 ribu lebih. 34 provinsi,” ujar Sutarman.

Ia juga memastikan paguyuban yang dipimpinnya bukan merupakan kerajaan. Dia menyebutnya sebagai bagian dari Ampera. Paguyuban tersebut, kata Sutarman, dibentuk sebagai wadah perkumpulan anak bangsa.

“Untuk menyatukan seonggok sejarah keluarga anak bangsa. Perkumpulan,” katanya.

Soal lambang Garuda Pancasila yang diubahnya, Sutarman mengaku-ngaku bahwa sedianya kepala burung Garuda menghadap ke depan. Namun, sambungnya, lambang ‘asli’ tersebut diubah beberapa kali sehingga menjadi seperti sekarang yang disahkan undang-undang.

“Maaf pak, kalau awal itu adalah….maaf kalau dulu Garuda Pancasila asalnya menghadap. Diganti dua kali, tiga kali,” ucap Sutarman.

Selain itu, Sutarman mengaku mencetak uang sendiri dengan wajahnya dan lambang Garuda yang menghadap ke depan untuk membangkitkan sejarah.

“Itu saya ingin membongkar kembali daripada perjanjian awal kenapa beliau-beliau dulu membuatkan uang itu. Kan gitu. Asal-usulnya dari mana, sejarahnya dari mana, kronologinya seperti apa, historinya seperti apa,” ujar Sutarman.

Sebagaimana dilihat , terdapat ciri yang sangat menonjol dalam uang yang dicetak oleh Paguyuban Tunggal Rahayu. Pada uang tersebut terpampang wajah Sutarman. Dia tampak menggunakan kopiah dan kemeja berdasi.

Dalam uang pecahan seribu, tertulis kata Bank Indonesia. Uang tersebut terlihat berwarna krem dengan gradasi warna hijau. Uang itu dilaminasi.

Sama halnya dengan uang seribu, dalam uang sepuluh ribu juga terdapat wajah Sutarman serta gambar burung Garuda menghadap ke depan. Pada uang tersebut, terlihat ada tulisan ‘1958 SKR’. (Red)